Who's Online

Login Form






Lost Password?

Events Calendar

August 2016 September 2016 October 2016
Su Mo Tu We Th Fr Sa
Week 35 1 2 3
Week 36 4 5 6 7 8 9 10
Week 37 11 12 13 14 15 16 17
Week 38 18 19 20 21 22 23 24
Week 39 25 26 27 28 29 30

Latest Events

There are no upcoming events currently scheduled.
View Full Calendar

Polls

Bagaimana pendapat Anda tentang Pestalozzi ?
 
Bagaimana menurut Anda isi web Pestalozzi?
 

Home
Jangan biarkan anak kita mengalamai "Kelelahan Otak" (Brain Fatique)
Wednesday, 09 March 2016

 

Di KB & TK Pestalozzi, Cibubur kegiatan anak ditekankan untuk bermain, pelajaran didapat adalah menolong diri sendiri dalam melakukan kegiatan sehari-hari tanpa bantuan siapapun, disiplin, bersosialisasi, membantu teman dan bekerjasama dalam kelompok2 kecil, mengeksplorasi lingkungan sekitar,gerak dan lagu (Motorik Kasar) dan Learning by Doing dengan menggunakan tangan (Motorik Halus).Beban pelajaran dengan terlalu banyak menstimulasi otak kiri seperti di pra-sekolah pada umumnya dan ditambah les-les di luar jam sekolah yang diwajibkan orangtua terhadap anak sejak usia dini hanya membuat anak stress dan mengalami kelelahan mental (Brain Fatique)..Hal ini tidak diterapkan di KB &TK Pestalozzi..Ini adalah kisah orangtua yang anaknya mengalami "Brain Fatique", pelajaran buat kita semua: YANG BISA KITA LAKUKAN SEBAGAI ORANGTUA ADALAH JANGAN BEBANKAN ANAK2 ANDA SEPERTI YANG DITERAPKAN DALAM CERITA INI..KASIHAN....

Atas ijin seorang teman, tanpa menyebutkan nama yang bersangkutan, saya membagikan kisah ini. Teman saya berharap, ini menjadi pelajaran untuk semua orang tua. Kisah saya tulis dengan gaya "Aku" :

Umur 2,5 tahun, Dino (nama samaran) anakku, mulai aku sekolahkan di sebuah sekolah unggulan. Rutinitasnya setiap pagi tidak lagi bergelayut manja di lenganku, tapi ribet dengan urusan persiapan sekolah. Tak jarang, Dino berangkat mandi masih terhuyung dalam kantuknya. Sering saat berangkat ke sekolahnya di mobil dia kembali tertidur. Namun aku mengabaikan perilaku ini, karena aku yakin suatu saat akan berubah seiring bertambahnya umur. Dan lagi, saat bermain dengan teman - temannya Dino terlihat gembira.

Dino termasuk anak pintar, di umur 3.5 tahun sudah mampu berhitung angka sampai bilangan 100, menghafal kata - kata dalam bahasa inggris, bernyanyi dalam bahasa inggris yang memang menjadi bahasa utama di sekolahnya. Siapa orang tua yang tidak bangga? Saat berkumpul dengan teman atau keluarga besar, Dino selalu mengundang decak kagum. Pun, postinganku di media sosial, penuh dengan pujian.

Tepat di usia 6 tahun 2 bulan, Dino masuk sekolah dasar. Selain kegiatan sekolah, hari - hari Dino diisi dengan bermacam les semua mata pelajaran, berenang, dan bermain musik.
Dino patuh sekali mengikuti jadwal yang aku buat. Pada penerimaan rapor semester pertama-nya, semakin aku dibuat kagum dengan hasilnya yang sangat baik. Apalagi saat guru-nya mengatakan bahwa Dino adalah siswa unggulan di kelasnya.

Petaka dimulai saat liburan. Dino tidak mau bangun dari tidurnya. Matanya sayu dan tidak bercahaya. Badannya lemas, tapi tidak panas, Dino pun tidak mampu menjelaskan apa yang terjadi di tubuhnya. Singkat cerita keadaan ini berlangsung hampir 2 minggu, semua dokter ahli bahkan profesor punya berbagai diagnosa namun selalu meleset saat dihadapkan pada hasil test darah dan test lainnya.

Di tengah kebingungan kami, seorang teman menyarankan membawa Dino ke seorang psikolog. Saran yang pada awalnya membuatku emosi karena seolah - olah menganggap Dino sebagai anak yang sakit mental. Untunglah suami saat itu kekeuh memaksa mencoba cara ini.

Di ruang "curhat" psikolog, Dino hanya bicara berdua saja. Kami menunggu di ruang lain. Hampir 2 jam kami menunggu sampai akhirnya giliran kami tiba. Dino yang diijinkan menunggu di ruangan yang sama, namun dengan jarak yang membuatnya tidak bisa mendengar pembicaraan kami, dibuat sibuk oleh si psikolog dengan buku warna.

Bagai guntur di siang bolong saat kami mendengar penjelasan psikolog itu. Dino mengalami kelelahan mental, namun dia tidak mampu mengungkapkan. Jadwal aktifitasnya yang bertubi - tubi sejak pertama kali dia sekolah (yang berarti 3.5 tahun lalu) adalah penyebabnya. Dino tidak menikmati aktifitasnya, tapi dia berusaha menurut untuk menyenangkan kami (sungguh ini menusuk hati kami).

Berikut ini adalah sebagian nasehat dari psikolog itu:

- Sistem pendidikan di Indonesia, kebanyakan masih mengutamakan kecerdasan intelektual. Tidak heran di usia yang masih sangat dini, anak sudah diajari membaca, menulis dan berhitung. Sebisa mungkin carilah pra sekolah yang "hanya bersenang - senang", tanpa membebani otak anak dengan hal - hal yang belum waktunya diterima oleh otak anak. Atau kalaupun itu tidak bisa dihindari, diluar jam sekolah jangan lagi menambahi beban mental anak dengan memaksa belajar hal - hal yang belum perlu benar.

- Arahkan anak pada hal - hal yang positif namun harus tetap mengedepankan apa keinginan anak.

- Tidak membebani anak dengan tugas "kamu harus menjadi nomor satu" untuk hal apapun. Tunjukkan dan buktikan, bahwa tanpa anak menjadi nomor satu, anak tetaplah istimewa untuk orang - orang di sekitarnya.

- Tidak meng-ekspos kepandaian anak di muka umum dan di media sosial, karena itu menjadi beban besar untuk anak.

Kami pulang dan sama - sama terdiam. Air mataku meluncur tidak tertahankan. Bagaimana bisa aku merusak mental anakku selama ini, bahkan malah menganggap itu sebagai proses kebaikan untuknya.

Sampai di rumah, Dino langsung masuk ke kamarnya, sementara kami berembuk, memutuskan apa yang harus kami lakukan. Pertama yang kami lakukan malam itu adalah meminta maaf pada Dino. Selama ini kami benar - benar mengabaikan hak-nya. Selanjutnya kami memutuskan mengurangi dengan sangat drastis jam - jam les Dino. Hanya mempertahankan apa yang Dino mau yaitu les musik saja.

Tidak lama setelahnya, kami mulai mendapatkan Dino yang sesungguhnya, Dino yang ceria, Dino yang bersemangat. Tanpa mengikuti les pelajaran yang bejibun, nilai - nilai Dino tetap membanggakan (padahal kami sudah bersepakat tidak akan mempermasalahkan nilai sekolahnya apapun hasilnya).

Kunjungan ke psikolog masih beberapa kali kami lakukan, banyak ilmu pengasuhan dan cara mendidik anak usia dini yang benar kami dapatkan darisini.

Semoga kisah ini menjadi pencerahan untuk kita semua. (Dr.D.Pane,KB &TK Pestalozzi, 9 Maret 2016)

 
Kisah Ponsel Pintar
Saturday, 16 January 2016

Orang tua yang terhormat, mohon perhatikan ..

Sedih tapi benar

Seorang guru setelah makan malam dia mulai memeriksa PR yang dikerjakan oleh para siswanya. Saat itu suaminya berjalan di dekatnya dengan ponsel pintar sambil bermain permainan favorit ya, 'Candy Crush Saga'.

Ketika membaca catatan terakhir, ibu guru itu mulai menangis dengan air mata berlinang.

Suaminya melihat hal itu dan bertanya, 'Mengapa kamu menangis sayang?
Apa yang terjadi?'

Istri: 'Kemarin saya memberikan pekerjaan rumah kepada para siswa saya, untuk menulis sesuatu tentang topik: -Yang Saya Inginkan-

'Suami: "OK, tapi kenapa kamu menangis?

'Istri:' Hari ini sementara memeriksa catatan mereka, itulah yang membuat saya menangis.

'Suami ingin tahu:' Apa yang tertulis dalam catatan yang membuat kamu menangis?

'Istri:' Dengarkan tulisan anak ini...

"Keinginan saya adalah untuk menjadi sebuah ponsel pintar.

Orang tua saya sungguh sangat mencintai ponsel pintar mereka.

Mereka peduli ponsel pintar mereka sehingga kadang-kadang mereka lupa untuk peduli kepada aku. Ayah saya pulang dari kantor lelah, ia memiliki banyak waktu untuk ponsel pintarnya, tapi tidak bagi saya.

Ketika orang tua saya melakukan beberapa pekerjaan penting dan ponsel pintar berdering, dengan segera mereka mengangkat teleponnya, tapi tidak untuk aku, bahkan jika aku merengek menangispun.

Mereka bermain game di ponsel pintar, mereka tidak bermain dengan saya.

Mereka berbicara dengan seseorang di telepon pintar mereka, mereka tidak pernah mendengarkan saya bahkan sekalipun saya mengatakan sesuatu yang penting.

Jadi, keinginan saya adalah untuk menjadi sebuah ponsel pintar."

Setelah mendengarkan catatan anak murid itu, sang suami tersentuh dan bertanya kepada istrinya, yang adalah ibu guru itu, 'Siapa menulis itu sayang?'.

Istri: 'Anak kita!' 😢😢😢😢😢😢....

Hallo pembaca!

Gadget sungguh bermanfaat, tetapi itu semua adalah untuk kemudahan saja. Janganlah kita berhenti mencintai anggota keluarga dan orang-orang yang mencintai kita.

Anak-anak melihat dan merasakan segala sesuatu apa yang terjadi dengan & di sekitar mereka. Berbagai hal dapat tertulis pada pikiran mereka dengan efek yang kekal. Mari berhati-hati, sehingga mereka tidak tumbuh dengan cinta dan hal-hal yang palsu.

Marilah kita berubah! Lebih perhatikan anak kita daripada Ponsel Pintar..
 
Cara Mendidik Anak Usia Dini dengan Baik dan Benar
Sunday, 26 April 2015


Oleh Dr.Dharmayuwati Pane,MA

 

Pada jaman modern seperti sekarang ini pendidikan anak sudah dimulai sejak usia dini karena penelitian menyatakan “ masa emas” anak adalah di usia 1-6 tahun, dimana otak anak berkembang sangat pesat sampai mencapai 50 % mya, sehingga sayang bila tidak distimulasi dan dikembangkan secara maksimal. Heinrich Pestalozzi,Bapak Pendidikan Usia dini di Eropa yang keturunan Italia dan berkebangsaan Swiss yang merupakan guru Maria Montesorri dan Johan Wolfgang Froebel (Kindergarten Jerman) telah mengembangkan sistem pendidikan yang menekankan pada HEAD (Kepala) terkait dengan kognitif,misalnya Matematika,Science dll,  HEART (hati) menyangkut urusan moral, agama dan sikap prilaku serta  HANDS (Ketrampilan tangan) yang berhubungan dengan motorik halus (mewarnai, menggunting,menempel, mengaksir dll) dan motorik kasar (melempar, menangkap dan memainkan bola, menari dll).Menurut Pestalozzi dengan mengembangkan ketiga unsur tsb dalam kurikulum secara seimbang, maka bisa dipastikan potensi anak didik tergali secara maksimal. Filosofi pengajaran Pestalozzi adalh CINTA KASIH dengan tidak membeda-bedakan anak di dalam suasana yang familiar seperti di rumah sendiri, karena itu ruang kelas di KB &TK Pestalozzi dirancang senyaman dan seaman mungkin mengikuti ajaran Pestalozzi. Hubungan antara anak didik, Guru dan Orangtua terjalin dengan erat, bekerjasama dengan baik dan berkomunikasi dua arah. Selain itu di KB & TK Pestalozzi kami juga menerapkan filosofi J.J. Reauseau yang menekankan pertamakalinya tentang anak itu “unik", tidak bisa dibandingkan dengan anak lain, walau dalam satu keluarga sekalipun, oleh karena itu pendekatan harus dilakukan secara individual dan tidak bisa dalam kelas masal, paling banyak 10-12 anak per kelasnya dengan satu orang Guru. Ajaran Pestalozzi tidak menerapkan pengajaran di kelas besar dengan jumlah murid 30 dengan  3 orang guru misalnya karena anak tetap terpecah konsentrasinya dalam kelas masal, kelas kecil sangat ideal.

Menurut Pestalozzi lagi, bahwa anak memerlukan perhatian,atensi, supervisi dan bimbingan secara individual maka Guru/Orangtua  harus menerapkan cara mendidik yang bijak. Pendidikan yang bijak dimaknai dengan mendidik anak dengan baik tanpa membedakan antara anak yang satu dengan yang lain meskipun mereka memiliki karakter yang berbeda-beda. Namun dalam kehidupan sehari-hari yang terjadi pada kebanyakan masyarakat kita tidaklah demikian. Banyak sekali dari orang tua  di rumah yang memberikan perlakuan yang berbeda terhadap anak-anaknya karena berbagai alasan. Sebagai contoh, dalam sebuah keluarga terdapat dua anak yang mana si bungsu lebih pandai Matematika daripada si sulung yang biasa-biasa saja. Karena kepandaian si bungsu tsb, orang tua cenderung lebih mengutamakan si bungsu daripada si sulung, padahal mungkin saja si sulung mempunyai potensi dalam bidang lain, misalnya Musik. Mungkin perlakuan beda seperti ini terlihat normal dan lumrah, namun harus diketahui bahwa memberikan perlakuan yang berbeda antara anak yang satu dengan yang lain dalam sebuah keluarga akan memberikan dampak yang kurang baik terhadap perkembangan fisik dan mental anak. Perlakuan yang beda yang diterapkan kepada anak-anak dalam satu keluarga dapat mengakibatkan munculnya beberapa fenomena yang besar kemungkinan akan terbawa hingga dewasa. Tema kali ini terfokus pada cara mendidik anak dengan baik dan adil dalam keluarga (orangtua) atau dalam kelas (Guru) sehingga tidak terjadi perbedaan antara keduanya yang  berdampak negatif bagi perkembangan anak.

Dalam menerapkan pendidikan anak di lingkungan keluarga, hal pertama yang perlu diperhatikan bagi setiap orang tua adalah dengan mengenali karakter setiap  anak terlebih dahulu serta memberikan porsi yang tepat kepada sang anak dalam membagi kasih sayang. Yang dimaksudkan dengan memberikan porsi yang tepat dalam membagi kasih sayang adalah, apabila dalam suatu keluarga terdapat lebih dari satu anak seperti contoh di atas, maka sebagai orang tua hendaklah memberikan pendidikan, perhatian  dan kasih-sayang yang sama kepada mereka secara adil dengan segala perbedaannya. Jangan karena anak bungsu lebih pandai dan berprestasi daripada anak sulung dan dengan begitu anda memberikan perlakuan yang berbeda, karena hal ini justru akan membuat si anak yang biasa-biasa saja akan merasa bahwa dirinya tidak berharga. Sebagai akibatnya, anak dengan kemampuan rata-rata akan merasa rendah diri di lingkungan keluarganya sendiri karena merasa dibedakan dan hal ini bisa terbawa dalam lingkungan sekolah dan kelak bila sudah dewasa. Banyak anak yang memilih untuk memberikan reaksi dengan menunjukkan perilaku yang lebih pendiam, namun ada pula yang menunjukkan perilaku lebih aktif dan cenderung agresif yakni anak sering distempel menjadi “anak nakal” sebagai tanda bahwa sebenarnya dia tengah berusaha untuk mendapatkan perhatian yang sama dari orang tuanya. Kebanyakan orang tua tidak menyadari akan hal ini dan justru menganggap anak yang aktif/reaktif ataupun agresif merupakan anak yang nakal, padahal kenyataannya tak demikian. Untuk mengatasi hal tersebut di sebuah keluarga, hendaknya orang tua memberikan perhatian dengan porsi yang sama atau bahkan memberi perhatian lebih intensif kepada anak yang kurang pandai Matematika misalnya dengan memberikan les di luar sekolah atau menggali potensinya di Bidang musik, dan diberi motivasi agar mereka lebih terdorong untuk semangat belajar. Yang perlu diingat dalam hal ini adalah, hindari membanding- bandingkan anak yang satu dengan yang lain dalam mendidik mereka karena hal ini akan membuat mental anak menjadi turun dan mereka akan merasa bahwa kehadiran mereka tidak berguna dalam keluarga. Meskipun kemampuan anak yang satu dengan yang lain berbeda, hendaknya orang tua memberikan perlakuan dan dukungan yang sama terhadap anak- anaknya dan memfasilitasinya.

Dalam mendidik anak di lingkungan keluarga, biasakan pula kepada anak untuk selalu menghormati yang lebih tua. hal ini dapat dilakukan dengan membiasakan sang anak untuk memanggil ‘kakak’ kepada saudara/teman  mereka yang lebih tua. Sebaliknya, anak yang lebih tua juga harus diajarkan bagaimana cara melindungi adiknya denga baik karena itu merupakan tugas yang wajib dilaksanakan oleh sang kakak sebagai anak yang lebih tua. dalam hal ini, orang tua harus selalu mendorong anak- anaknya agar terbiasa melakukan hal tersebut sehingga sang anak akan terbiasa untuk menghormati yang lebih tua dan mengasihi yang lebih muda sehingga kebiasaan ini kelak akan dibawanya ketika dia tumbuh dewasa nanti. Dalam hal ini orang tua juga perlu menekankan kepada sang anak mengenai pentingnya bersikap sopan dan santun terhadap kedua orang tua sehingga sang anak akan tumbuh menjadi pribadi yang memiliki adab dan perilaku yang baik terhadap orang tua mereka, teman dan sesama.

Cara lain yang dapat dilakukan dalam mendidik anak dengan baik di lingkungan keluarga yakni anatara lain dengan mengajarkan kepada anak mengenai tentang kebiasaan untuk selalu menerapkan disiplin di rumah. Belajar disiplin di lingkungan keluarga dapat dilaksanakan dengan mengajarkan anak untuk bangun tidur tepat pada waktunya, menaruh sepatu atau sendal pada tempatnya, serta merapikan kembali mainan yang telah selesai digunakan. Sebagai langkah awal, orang tua dapat melakukan pendampingan kepada sang anak untuk melakukan hal- hal ini, setelah dirasa anak mulai terbiasa dengan aktifitas barunya yang berkaitan dengan disiplin, maka orang tua dapat membiarkan anak melakukan sendiri kewajiban sehari-hari mereka. Pada awalnya mungkin orang tua memerlukan sedikit usaha dan kesabaran ekstra dalam menanamkan kebiasaan berdisiplin kepada anak, namun dengan ketekunan dan kesabaran, maka orang tua akan mandapatkan anak yang telah terbiasa untuk hidup berdisiplin. Jangan biarkan anak berkembang tanpa disiplin diri, karena kebiasaan jelekpun akan terbawa hingga dewasa.

Selain itu menanamkan pengetahuan/science  melalui pendidikan yang menyenangkan  di dalam rumah dapat dilakukan oleh orang tua dengan mengenalkan anak kepada ilmu pengetahuan/science  sejak dini. Hal ini dapat dilakukan dengan membelikan buku-buku pelajaran bergambar kepada anak- anak di usia pra sekolah, dan membelikan buku- buku mengenai kisah- kisah teladan untuk dibacakan kepada mereka. Sangat dianjurkan pula kepada orang tua untuk mulai mengajarkan kepada sang anak mengenai akademis dalam bentuk yang lebih sederhana dan sambil bermain agar anak terbiasa mengenal ilmu pengetahuan sejak dini. Dengan memperkenalkan anak kepada ilmu pengetahuan sejak dini, maka anak akan menyukai pelajaran dan senang membaca, mereka akan lebih siap dalam menerima ilmu pengetahuan kelak ketika mereka memasuki masa pertama usia sekolah mereka. Apabila dirasa sulit untuk mengenalkan anak mengenai ilmu pengetahuan, maka sebagai orang tua anda harus bersabar dalam mengenalkan ilmu pengetahuan tersebut. Hindari terlalu memaksakan kehendak kepada anak untuk mengikuti les-les tertentu karena hal ini akan membuat anak menjadi tertekan dan mereka belajar dengan  keterpaksaan, tidak menikmatinya, karena bukan pilihan sendiri. Seperti yang banyak terjadi di sekeliling kita saat ini, para orang tua kebanyakn memaksakan anak-anak mereka untuk mengikuti les dengan jadwal yang padat sehingga anak- anak tidak memiliki waktu yang cukup untuk bermain dan bersosialisasi yang sant penting bagi perkembangan mereka. Kita harus ingat, bahwa masa kanak- kanak adalah masa bermain yang paling penting karena pada  usia tersebut adalah usia mereka mengeksplorasi dan mempelajari  keadaan lingkungan di sekitar mereka.

Disamping menanamkan pendidikan akademis, penting juga bagi orang tua untuk menanamkan pendidikan agama/moral sejak dini kepada anak agar anak memiliki pegangan hidup yang kuat sejak kecil. Pendidikan agama/moral dapat dilakukan dengan mengajarkan anak mengenai hukum-hukum agama dan kewajiban-kewajiban dalam kehidupan beragama, tentu saja dalam skala yang lebih sederhana dan mudah dicerna oleh anak, misal dengan membacakan kisah-kisah Nabi atau menunjukkan contoh-contoh yang baik sebagai panutan. Jangan mencekoki anak anda dengan doktrin-doktrin yang terlalu berat sehingga anak akan kesulitan dalam memahami hakikat dari agama yang diajarkan dari orang tuanya. Dengan membekali anak pendidikan agama sejak dini, maka sang anak akan memiliki pegangan hidup yang kuat kelak ketika ia tumbuh dewasa nanti dan dengan demikian mereka tidak akan mudah goyah dalam menghadapi tantangan- tantangan hidup yang lebih besar pada fase usia dewasa. Dengan demikian, anak akan lebih mudah mengetahui dan memahami hal- hal baik mengenai agama dan makna moral yang diajarkan oleh kedua orang tuanya.

Dalam menerapkan cara mendidik anak dengan baik, yang terpenting adalah peranan dari orang tua yang harus selalu mendampingi anak- anaknya dalam memberikan pengajaran yang baik dan benar di lingkungan keluarga. Dalam membiasakan hal ini, orang tua hendaknya memiliki kesabaran khusus dan benar- benar memahami kondisi sang anak sehingga orang tua tidak akan salah dalam memberikan pendidikan yang tepat terhadap anak-anaknya. Apabila orang tua salah dalam memberikan pengajaran kepada anak- anaknya, maka anak akan tumbuh menjadi anak yang sulit diatur dan cenderung berontak karena sistem pendidikan yang salah terhadap anak-anak kita. Apabila anak anda merupakan anak yang sedikit sulit diatur dibandingka dengan anak- anak yang lain, maka anda harus tetap bersabar dan jangan sekali- kali membentak anak karena hal ini justru akan membuat sang anak menjadi pribadi yang lebih sulit diatur.

Kunci keberhasilan dari mendidik anak di lingkungan keluarga terletak pada bagaimana cara orang tua dalam menerapkan pendidikan tersebut kepada anak-anaknya tanpa harus membuat anak merasa digurui oleh orang tua. Orangtua harus bisa menciptakan kondisi keluarga menjadi lingkungan senyaman mungkin bagi anak yang akan sangat membantu memudahkan orang tua dalam memberikan pendidikan kepada sang anak di lingkungan keluarga, karena hal ini kan berlanjut di sekolah. Selain itu, menjaga keharmonisan di dalam keluarga juga akan memberikan perasaan disayangi dan suasana yang hangat dalam lingkungan keluarga yang tentu saja akan membuat anak menjadi semakin merasa nyaman dan diterima keberadaannya di lingkungan keluarga. Dengan menciptakan lingkungan keluarga yang hangat dan penuh kasih sayang, maka akan semakin mudah bagi orang tua dalam menerapkan  cara mendidik yang baik dan benar dan dianjurkan untuk selalu bekerjasama dengan Guru di sekolah, agar potensi anak bisa tergali dengan maksimal dan anak berprilaku baik pula dirumah, di sekolah dan di masyarakat. (KB& TK Pestalozzi,Cibubur 25 April 2015)

 

 

 

 

 

Last Updated ( Thursday, 30 April 2015 )
 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>

Results 1 - 4 of 131

© 2016 Pestalozzi Indonesia

TBN - TIDYA Businesses Network